Sunday, November 6, 2011

Ancaman Lobi Yahudi Terhadap Kemenangan An Nahdlah

Pada awal tahun 1994,sekelompok kecil 'think tank' Islam yang berafiliasi dengan University of South Florida (USF), merencanakan menjadi tuan rumah forum bersifat akademik dari Rashid Ghannoushi, pemimpin partai oposisi utama di Tunisia, An-Nahdhah.
Tujuan dari acara tahunan ini adalah memberikan kesempatan bagi akademisi dan intelektual Barat, yang merupakan kesempatan langka, terlibat dengan seorang pemimpin Islam yang berorientasi intelektual dan politik, di mana pada saat itu wacana politik didominasi oleh Samuel Huntington, yang banyak membicarakan tentang thesis konflik peradaban.
Rashid Ghannoushi dapat memberikan pandangan-pandangan yang bersifat akademik kepada para 'think-thank' Barat, yang berkumpul di University of South Florida (USF). Tidak banyak kalangan akademisi dari dunia Islam, yang begitu saja dapat diterima kalangan Barat. Ghannoushi memiliki kemampuan dan referensi yang memadai berbicara di depan kalangan akademisi Barat.
Tetapi, kegiatan yang akan mengundang dan menghadirkan Rashid Ghannoushi itu mendaptkan tantangan yang sangat kuat dari Lobi Yahudi di Amerika dan kalangan Sayap Kanan, yang sangat membenci terhadap Islam. Kelompok pro-Israel dan pendukungnya yang dipimpin oleh Martin Kramer, Daniel Pipes, Steven Emerson, kepala B'nai B'rith lokal, dan seorang wartawan untuk koran Sayap Kanan setempat, mulai kampanye terkoordinasi mendiskreditkan acara dan menakut-nakuti universitas.
Menurut Arthur Lowrie, mantan pejabat di sebuah Departemen yang menjadi dosen di USF pada saat itu, kelompok lobi Yahudi terkemuka di Amerika, AIPAC dan kelompok pro Israel lainnya, melakukan tekanan yang besar pada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk membatalkan visa Ghannoushi, dua minggu setelah visa itu dikeluarkan oleh fihak Kedutaan Amerika di London. Lobi Yahudi tidak menginginkan kehadiran Ghannoushi ke Amerika Serikat.
Akibatnya Universitas South of Florida (USF) harus membatalkan acara itu. Meskipun, protes keras oleh lebih dari dua lusin dari ilmuwan dan akademisi di USF. Akibatnya, pertemuan yang sangat berharga antara intelektual Barat dan pembuat opini di satu sisi, dan tokoh utama dari dunia Islam, terhambat dan gagal, karena agenda dan kepentingan Lobi Yahudi begitu kuat mempengaruhi pemerintah Amerika, sampai dapat mengggagalkan acara yang sangat penting itu.
Episode ini yang terjadi University of Suoth Florida (USF) itu, selanjutnya berpengaruh terhadap gerakan anti-intelektual dalam tahun-tahun berikutnya yang berusaha untuk membatasi kelompok-kelompok dan tokoh Islam untuk berkontribusi pada dialog nasional, terutama pasca 9 / 11. Semua yang berbau Islam di Barat, terutama di Amerika Serikat, sekarang selalu dicurigai dan diawasi serta dibatasi oleh pemerintah, bersamaan dengan kampanye yang begitu intensif dari Lobi Yahudi.
Sejak tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat belum pernah mengeluarkan visa bagi Ghannoushi memasuki Amerika Serikat. Meskipun dia telah berkunjung ke negara itu beberapa kali pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.
Pada saat itu, ia tinggal di Inggris setelah diberikan suaka politik dan dibersihkan oleh pemerintah Inggris dari setiap hubungan dengan kekerasan. Dia juga memenangkan gugatan pencemaran nama baiknya di Inggris terhadap loyalis rezim Gadddafi yang menuduhnya mengobarkan kekerasan dan perselisihan di dalamnya Tunisia.
Semua tuduhan dari rezim Zine Al Abidin ben Ali, tidak pernah terbukti. Maka, pemimpin An-Nahdhah yang mendaptkan suaka politik selama 20 tahun, tetap aman, dan pemerintah Inggris tidak pernah mau mendengar desakan dari rezim Tunisia.
Tujuh belas kemudian, sejak tahun l994, di Tunisia lahir kembali kekuatan politik yang berorientasi Islam, dipimpin Ghannoushi, yaitu Partai An-Nahdhah, dan memenangkan pemilu di Tunisia dengan 42 persen suara.
An-Nahdhah dan Ghannoushi menerima tiga kali lilpat kursi di parlemen, dan sebagai fihak pemenang dalam pemilu pertama di Tunisia, pasca rezim Zine al-Abidin. An-Nahdhah banyak mendapatkan pujian oleh semua pihak yang relevan dan pengamat internasional sebagai pemilu yang demokratis, bebas, adil, dan transparan.
Rashid Ghannoushi merupakan tokoh Ikhwan dan pendiri Ikhwan di Tunisia, sejak tahun pertama di negeri tepian Laut Mediterinian, dan tokoh dan pemimpin An-Nahdhah, orang pertama dari kalangan akademisi di Tunis, yang menyambut seruan dakwah yang diserukan oleh Ikhwan. Ghannoushi, yang masuk ke dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin di masa Jamaah Ikhwan di pimpin oleh Mursyid 'Aam Makmun Hudaibi, pemimpin yang kedua, sesudah Hasan al-Banna.
Keberadaan Partai An-Annahdhah memiliki akar yang dalam pada kehidupan rakyat Tunisia, yang tidak dapat dihilangkan oleh Habib Bourguiba dan Zine al-Abidin ben Ali bagitu saja. Dua rezim sebelumnya Habib Bourguiba dan Zine al-Abidin, yang begitu massive melakukan sekulerisasi dan penghancuran terhadap Islam dan para aktivis Islam, akhirnya harus pergi.
Kekuatan sekuleris di Tunisia mendapatkan dukungan dari Lobi Yahudi di Amerika Serikat, yang tidak menginginkan tumbuhnya Islam politik di Tunisia. Apalagi, selama beberapa dekade minoritas Yahudi selalu dapat menyetir pemerintahan sekuler sejak sebelum merdeka sampai Bourguiba dan Zine al-Abidin ben Ali, dan mereka ingin terus berusaha menyetir pemerintahan yang baru.
Mereka membuat isu yang sangat negatif, terhadp Partai An-Nahdhah, yang mereka katakan sebagi perpanjangan tangan al-Alqaidah. Sehari, selepas pengumuman kemenangan An-Nahdhah, yang mendapatkan suara 42 persen, langsung kelompok-kelompok sekuler di Tunisia melakukan aksi anarki, dan pembakaran.
Minoritas Yahudi yang jumlahnya mencapai 5000 orang itu, menuntut jaminan keamanan dari pemerintah yang baru. Sebelumnya, Israel telah melakukan misi penyelamatan terhadap minoritas Yahudi di Tunisia, dan membawa mereka ke Israel.
Sekarang, Islam dan kaum Muslimin memulai lagi kehidupan baru bersamaan dengan perginya para tiran dari Tunisia. Islam tidak pernah memberikan kesempatan secara terus menerus bercokolnya para tiran di negeri-negeri Islam, karena hakekatnya Islam menolak dengan sangat keras para tiran.
Di dalam surah An-Nahl ayat 36, Allah Ta'ala ber firman : "Sesungguhnya Allah Rabbul Alamin mengutus para rasul pada setiap umat untuk mengajak beribadah (menyembah) hanya kepada Allah, dan menjauhi thogut".
Dua thogut yang menghancurkkan Tunisia, dan kaki tangan Yahudi dan Nasrani telah pergi selama-lamanya dari bumi Tunisia, dan sekarang terbitlah cahaya Islam, menggantikan kegelapan di bumi Islam Tunisia. Semoga. (al-afghan)

No comments: